Ketika AI Mampu Menjawab, Sekolah Harus Mengajarkan Cara Menemukan Masalah
Refleksi tentang Arah Pendidikan Kecerdasan Artifisial di Masa Depan
Oleh: Nizar Suryadi
Guru Informatika SMA Negeri 4 Tasikmalaya
Ketika Berinteraksi dengan AI Tidak Lagi Terasa Seperti Memberikan Perintah
Beberapa tahun terakhir, perkembangan kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) telah mengubah banyak hal, termasuk cara kita belajar, bekerja, dan menyelesaikan permasalahan.
Pada awal kemunculan AI generatif, kita sering diperkenalkan dengan istilah prompt engineering. Kita diajarkan bagaimana menyusun instruksi yang baik, menentukan peran AI, membuat perintah yang terstruktur, hingga menggunakan formula tertentu untuk mendapatkan jawaban yang diinginkan.
Namun, dari pengalaman pribadi saya menggunakan AI, ada perubahan menarik yang mulai saya rasakan.
Saya semakin jarang merasa sedang membuat prompt. Saya merasa sedang mengobrol.
Saya tidak lagi selalu memulai percakapan dengan instruksi panjang. Saya cukup menceritakan masalah yang sedang dihadapi, mendiskusikan kemungkinan solusinya, mempertimbangkan berbagai pilihan, kemudian mengambil keputusan.
Percakapan itu bisa berlangsung berulang kali, bahkan berlanjut pada hari-hari berikutnya. Dengan dukungan fitur memori dan riwayat percakapan, AI dapat menggunakan kembali konteks yang relevan tentang pekerjaan, proyek, dan kebutuhan saya.
Pengalaman tersebut membuat saya berpikir: jika cara kita menggunakan AI sudah berubah, apakah cara kita mengajarkan AI kepada siswa juga tidak seharusnya berubah?
Prompt Bukan Lagi Satu-satunya Kompetensi Dasar
Saya tidak mengatakan bahwa kemampuan membuat prompt sudah tidak berguna. Menyampaikan instruksi yang jelas tetap penting, terutama dalam pekerjaan yang membutuhkan ketelitian dan hasil yang konsisten.
Namun, menurut saya, pendidikan AI tidak seharusnya terlalu berpusat pada teknik menyusun prompt.
Teknologi AI terus berkembang. Kemampuannya memahami bahasa alami, mempertahankan konteks, mengolah informasi, hingga membantu menghasilkan karya semakin baik.
Jika pembelajaran AI hanya berfokus pada kemampuan membuat perintah, kita berisiko mengajarkan keterampilan yang terlalu bergantung pada cara kerja suatu alat pada masa tertentu.
Padahal, pendidikan semestinya membekali siswa dengan kemampuan yang dapat bertahan dan berkembang meskipun teknologinya berubah.
Bagi saya, kemampuan tersebut adalah berpikir kritis, mengamati lingkungan, memahami kebutuhan manusia, menemukan permasalahan, dan menilai kualitas solusi.
AI boleh semakin pintar memberikan jawaban. Namun, manusia tetap harus belajar menemukan pertanyaan yang penting untuk dijawab.
Belajar dari Pengalaman Mengembangkan SASTI
Pandangan ini juga berangkat dari pengalaman saya sebagai guru Informatika di SMA Negeri 4 Tasikmalaya.
Pada tahun 2022, saya menemukan persoalan dalam proses pencatatan keterlambatan siswa. Persoalan tersebut terlihat sederhana, tetapi berkaitan dengan kebutuhan informasi, efektivitas pekerjaan guru, dan komunikasi dengan orang tua.
Dari kebutuhan itulah saya mulai mengembangkan sistem yang kemudian tumbuh menjadi SASTI, Sistem Aplikasi Sekolah Terintegrasi.
Seiring waktu, SASTI berkembang untuk mendukung berbagai kebutuhan sekolah, mulai dari pengelolaan kedisiplinan, layanan bimbingan konseling, kegiatan ekstrakurikuler, ujian, hingga berbagai layanan digital lainnya.
Dari perjalanan tersebut, saya mendapatkan pelajaran penting.
Sebuah inovasi tidak selalu dimulai dari penguasaan teknologi yang paling canggih. Inovasi sering kali dimulai dari kepekaan seseorang melihat masalah di sekitarnya.
Teknologi adalah sarana untuk mewujudkan solusi.
Saat ini, dengan bantuan AI, proses merancang dan mengembangkan solusi digital dapat menjadi jauh lebih mudah. Bahkan seseorang yang belum menguasai seluruh aspek teknis pemrograman dapat mulai belajar membangun prototipe melalui kolaborasi dengan AI.
Tetapi ada hal yang tidak boleh dilupakan.
AI tidak otomatis mengetahui seluruh persoalan nyata di lingkungan sekolah kita. Kondisi sosial, budaya kerja, kebutuhan siswa, kebiasaan guru, dan berbagai persoalan keseharian membutuhkan pengamatan serta pemahaman manusia.
Di sinilah saya melihat nilai pendidikan yang sesungguhnya.
Dari Problem Solving Menuju Problem Discovery
Selama ini, banyak kegiatan pembelajaran dirancang dengan pola yang sudah kita kenal.
Guru memberikan persoalan, kemudian siswa diminta mencari jawabannya.
Pola tersebut tentu tetap penting. Namun, kehadiran AI membuka kesempatan untuk mengembangkan pendekatan yang lebih luas.
Bagaimana jika siswa tidak selalu diberikan masalah yang sudah disiapkan guru?
Bagaimana jika siswa justru diminta mengamati lingkungannya, menemukan persoalan, memahami penyebabnya, kemudian menggunakan AI sebagai mitra untuk merancang solusi?
Inilah yang saya maksud dengan pergeseran dari pembelajaran yang hanya berfokus pada problem solving menuju pembelajaran yang juga mengutamakan problem discovery.
Sebagai contoh, dalam pembelajaran Informatika, saya dapat meminta siswa mengamati lingkungan sekolah selama satu minggu.
Mereka mungkin menemukan persoalan sampah yang belum terkelola, fasilitas sekolah yang rusak, antrean pelayanan, kesulitan mengakses informasi, atau berbagai masalah lainnya.
Setelah menemukan masalah, siswa tidak langsung diminta membuat aplikasi.
Mereka perlu memastikan terlebih dahulu apakah masalah tersebut benar-benar terjadi, siapa yang terdampak, apa penyebabnya, dan mengapa masalah itu penting untuk diselesaikan.
Barulah AI digunakan untuk membantu menganalisis informasi, mengeksplorasi alternatif, merancang solusi, atau mengembangkan prototipe.
Bahkan, hasil analisis bisa saja menunjukkan bahwa masalah tersebut tidak memerlukan aplikasi atau AI sama sekali. Mungkin yang dibutuhkan justru perubahan prosedur, komunikasi yang lebih baik, atau pembiasaan perilaku.
Kemampuan membuat keputusan seperti inilah yang perlu dibangun dalam pendidikan.
AI sebagai Mitra Berpikir, Bukan Pengganti Berpikir
Salah satu kekhawatiran terhadap penggunaan AI dalam pendidikan adalah kemungkinan siswa menjadi terlalu bergantung pada teknologi.
Kekhawatiran tersebut perlu dijawab melalui pendekatan pembelajaran yang tepat.
Menurut saya, melarang AI bukanlah satu-satunya cara untuk menjaga kemampuan berpikir siswa. Sebaliknya, memberikan kebebasan menggunakan AI tanpa proses refleksi juga bukan pilihan yang baik.
Kita perlu mengajarkan cara berkolaborasi secara kritis dengan AI.
Siswa boleh menggunakan AI untuk mencari alternatif jawaban, tetapi harus mampu menjelaskan alasan memilih suatu solusi.
Siswa boleh menggunakan AI untuk membuat kode program, tetapi tetap perlu memahami fungsi, logika, dan risiko dari program yang dihasilkan.
Siswa boleh berdiskusi dengan AI untuk menyusun gagasan, tetapi harus mampu memeriksa kebenaran informasi dan mengakui keterbatasan hasilnya.
Dengan demikian, AI tidak menggantikan proses berpikir. AI justru dapat menjadi sarana untuk memperluas proses berpikir.
Pentingnya Konteks dalam Kolaborasi dengan AI
Ada hal lain yang saya rasakan dari penggunaan AI dalam jangka panjang, yaitu pentingnya konteks.
AI yang dapat menggunakan konteks relevan dari interaksi sebelumnya memungkinkan proses diskusi berjalan lebih berkesinambungan.
Saya tidak harus selalu menjelaskan pekerjaan dan proyek yang sedang dikembangkan dari awal. Ketika konteksnya tersedia, diskusi dapat langsung berlanjut pada persoalan yang ingin diselesaikan.
Bagi saya, hal ini menunjukkan bahwa literasi AI ke depan juga mencakup kemampuan membangun konteks dan hubungan kerja yang efektif dengan teknologi.
Namun, personalisasi harus berjalan beriringan dengan kesadaran privasi.
Penggunaan akun dan fitur memori dapat membantu kolaborasi jangka panjang, tetapi bukan kewajiban bagi semua pengguna. Siswa perlu memahami keamanan akun, perlindungan data pribadi, dan batas informasi yang boleh dibagikan kepada sistem AI.
Dengan demikian, pembelajaran AI tidak hanya membentuk pengguna yang terampil, tetapi juga pengguna yang bertanggung jawab.
Arah Pendidikan AI yang Saya Bayangkan
Saya membayangkan pembelajaran AI di masa depan lebih banyak memberikan ruang bagi siswa untuk melakukan lima hal utama.
Pertama, mengamati. Siswa belajar melihat kondisi nyata di sekitarnya, bukan hanya menerima persoalan dari buku atau guru.
Kedua, menemukan dan memahami masalah. Siswa belajar mengidentifikasi kebutuhan, menemukan akar persoalan, dan menentukan prioritas.
Ketiga, berdialog dan berkolaborasi dengan AI. Siswa menggunakan AI untuk membantu memperluas pengetahuan, menguji gagasan, dan mencari kemungkinan solusi.
Keempat, menciptakan dan menguji solusi. Siswa tidak berhenti pada jawaban atau produk yang terlihat menarik, tetapi menguji kelayakan dan manfaatnya.
Kelima, melakukan refleksi. Siswa mengevaluasi proses, memeriksa kesalahan AI, mempertanggungjawabkan keputusan, dan memperbaiki hasil pekerjaannya.
Dalam pendekatan ini, keberhasilan belajar tidak cukup dinilai dari bagusnya produk yang dihasilkan AI.
Guru juga perlu menilai ketajaman pengamatan siswa, kedalaman pemahaman masalah, ketepatan keputusan, kualitas pengujian, dan kemampuan mempertanggungjawabkan hasil.
Pengetahuan dasar tentang cara kerja AI, data, algoritma, bias, dan keterbatasan sistem tetap perlu dipelajari. Tetapi semua itu sebaiknya dihubungkan dengan pengalaman nyata agar siswa memahami mengapa pengetahuan tersebut penting.
Guru Tetap Memegang Peran Penting
Semakin hebat kemampuan AI, semakin penting pula peran guru dalam merancang pengalaman belajar yang bermakna.
Guru tidak lagi harus selalu menjadi satu-satunya sumber jawaban. Guru dapat menjadi pembimbing yang membantu siswa mengamati, bertanya, mempertanyakan informasi, menguji solusi, dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab.
AI dapat menghasilkan banyak kemungkinan jawaban, tetapi guru membantu siswa membangun kebijaksanaan untuk memilih dan menggunakan jawaban tersebut.
Pendidikan bukan sekadar menghasilkan pekerjaan yang selesai dengan cepat. Pendidikan adalah proses membentuk manusia yang mampu memahami dirinya, lingkungannya, dan tanggung jawabnya terhadap orang lain.
Karena itu, penggunaan AI dalam pembelajaran semestinya tetap berpusat pada perkembangan manusia.
Penutup: Jangan Hanya Mengajarkan Cara Bertanya kepada AI
Perkembangan kecerdasan artifisial akan terus mengubah cara manusia bekerja dan belajar.
Kita mungkin belum mengetahui secara pasti kemampuan apa saja yang akan dimiliki AI dalam lima atau sepuluh tahun mendatang.
Namun, saya meyakini bahwa kepekaan terhadap permasalahan, kemampuan berpikir kritis, kreativitas, empati, dan tanggung jawab akan tetap menjadi bagian penting dari pendidikan.
Oleh karena itu, saya berharap pembelajaran AI di sekolah tidak berhenti pada kemampuan membuat prompt, menggunakan aplikasi, atau menghasilkan karya digital.
Kita perlu membawa pembelajaran lebih dekat dengan kehidupan nyata.
Biarkan siswa mengamati lingkungan. Biarkan mereka menemukan persoalan. Biarkan mereka berdiskusi dengan AI, mencoba, gagal, memperbaiki, dan menemukan solusi yang bermanfaat.
Sebab, pada akhirnya, tujuan pendidikan AI bukanlah mencetak manusia yang paling pandai memberikan perintah kepada mesin.
Tujuannya adalah membentuk manusia yang peka terhadap masalah, mampu berpikir, bijaksana dalam mengambil keputusan, dan dapat memanfaatkan kecerdasan artifisial untuk menghadirkan perubahan nyata.
Ketika AI semakin mampu memberikan solusi, pendidikan harus semakin serius mengajarkan manusia untuk menemukan masalah yang layak diselesaikan.